A journey through Indonesian art

 

Pameran Seni di The Oberoi, Bali.

Dari Oktobr 09 ke Desember 08, 2019.

 

Jalan Kayu Aya, Pantai Seminyak, Kuta, Bali



  • Flyer  Web A Journey
  • 1   RUSLI Pegunungan 60x50
  • EDO POP Sepenggal Tubuh Ketiga  90x120
  • 7
  • Flyer  Web A Journey
  • 1   RUSLI Pegunungan 60x50
  • EDO POP Sepenggal Tubuh Ketiga  90x120
  • 7

 Rudolf Bonnet
Lahir di Amsterdam (1895 - 1978).
Rudolf Bonnet belajar di Sekolah Rijks voor Kunstnijverheid (Sekolah Seni dan Kerajinan Nasional) dan Rijksakademie (Akademi Nasional) di Amsterdam, Belanda.
Antara tahun 1929 dan 1940 seniman tinggal di Ubud dan terlibat dalam masalah masyarakat termasuk perawatan kesehatan dan pendidikan. Bonnet juga sangat terlibat dalam gerakan Pita Maha, yang mendorong seniman lokal untuk meningkatkan standar artistik mereka. Dia ditangkap oleh Jepang selama Perang Dunia II, dan kembali ke Bali pada tahun 1946. Pada tahun 1947, Bonnet kembali ke Ubud di mana ia mencoba untuk kembali ke kegiatan pra-perangnya. Seniman ini mengadakan pameran Bali pertama pascaperang di bawah naungan Republik Indonesia Timur yang baru. Dia juga mengorganisir sebuah asosiasi baru, yang dimaksudkan untuk mengikuti jejak Pita Maha, yang disebut Golongan Pelukis Ubud pada tahun 1953 dan Museum Puri Lukisan (Museum Seni Kerajaan) pada tahun 1956 di Ubud. Karena usia dan penyakit dia tidak dapat menyelesaikan katalog museum, tetapi dia menyumbangkan koleksi pribadinya yang menjadi inti dari itu.
Rudolf Bonnet meninggal di Laren, Belanda pada 18 April 1978. Tubuhnya dikremasi secara seremonial di Bali pada 1979.
Rusli
Lahir di Medan, Sumatera Utara (1912 - 2005).
Ia belajar di Universitas Rabindranath Tagore Kala Bhawana Santiniketan, Bengal, India dari tahun 1932 hingga 1936. Ia menghabiskan 6 tahun di India untuk mempelajari seni lukis murni, seni mural dan relief, arsitektur, serta filosofi seni timur tradisi Shantiniketan dan pikir. Sekembalinya dari India, ia langsung berpartisipasi dalam revolusi fisik Indonesia untuk kemerdekaan yang berjuang melawan penjajah. Setelah era perang revolusioner, pada tahun 1951, Rusli ditunjuk untuk menjadi dosen di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta (yang sekarang telah berubah menjadi Institut Seni Indonesia atau ISI).
Dia memperoleh kesempatan untuk melakukan perjalanan keliling Eropa Barat pada tahun 1953-1956, berdasarkan undangan dari Sticusa; sebuah lembaga kebudayaan Belanda di Indonesia yang sekarang dikenal sebagai Erasmus Huis. Publik di Eropa jelas sangat menghargai karya seninya seperti yang diperlihatkan dalam pameran berurutannya di Roma, Den Haag, dan Amsterdam. Pada saat pamerannya di Stedelijk Museum Amsterdam, di Kunst Zaal Plaats Den Haag, dan Ismeo Roma, ia dianugerahi apresiasi hangat dari banyak jurnalis Barat sebagai master dengan teknik sempurna.
Rusli melanjutkan rekam jejaknya yang luar biasa pada tahun 1960 ketika ia ditunjuk sebagai Wakil Ketua Internasional Seni Plastik UNESCO (IAPA) di Indonesia. Dia meninggal di Jakarta pada 11 Mei 2005.
Fadjar Sidik
Lahir di Surabaya, Jawa Timur (1930-2004).
Fadjar belajar sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada (UGM) sebelum mendaftar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta. Antara 1957-1961 ia berada di Bali untuk menjadi pelukis profesional, di sana ia tidak hanya melukis kesan-kesan tentang tanah dan kehidupan orang Bali, tetapi menyaksikan perkembangan wisata yang pesat yang membuat budaya Bali juga semakin tiruan. Sebagai tanggapan, Fadjar tergerak untuk menciptakan bentuk ekspresinya sendiri dengan melukis melalui dorongan murni. Dia mulai dengan bentuk semi-abstrak, yang menjadi lebih abstrak setelah dia menjadi dosen di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) pada akhir 1961 di Yogyakarta. Ia memperoleh penghargaan seni nasional dari Pemerintah pada tahun 1971 dan Penghargaan Seni dari Yogyakarta pada tahun 1993, ia juga aktif dalam seminar dan simposium seni dan telah menjadi juri dalam pameran Biennale di Jakarta dan dua kali berturut-turut sebagai juri di Seni. Biennale di Yogyakarta diadakan di Taman Budaya Yogyakarta pada tahun 1988 dan 1990.
Fadjar Sidik meninggal pada 18 Januari 2004 di rumahnya di Yogyakarta. Seniman telah menjadi agen perubahan dalam seni lukis modern dan pelopor seni abstrak di Indonesia.
I Ketut Murtika
Ia adalah pelukis Batuan yang lahir di Bali, Indonesia (1952).
Di Batuan berkembang penggunaan tinta Cina yang kaya dan padat dalam pencucian, berlapis-lapis untuk menciptakan suasana warna gelap dari highlight putih. Lukisan-lukisan tersebut menggambarkan kehidupan sehari-hari Bali atau hantu-hantu dan roh-roh aneh yang menghantui jiwa masyarakat Bali. Sekolah Batuan awal tahun 1930-an ini adalah periode singkat kebebasan berekspresi absolut.
Agung Mangu Putra
Lahir di Selat, Sangeh, Bali (1963).
Agung Mangu Putra menyelesaikan pendidikannya dalam Perancangan Komunikasi Visual di Fakultas Seni Rupa dan Desain di Institut Seni Indonesia Yogyakarta (1990).
Artis ini memenangkan Philip Morris Indonesia Art Award pada tahun 1994.
Kreativitasnya telah didokumentasikan dalam buku Mangu Putra: Alam, Budaya, Ketegangan (2000). Karya-karya Kangu Putra timbul dari kontak yang intens dengan dunia sebagai ekspresi sadar dari orientasi kreatif utamanya. Representasi fenomena alam, bersama dengan denyut nadi kehidupan, membentuk aliran utama pencariannya. Dunia alami, seperti gunung dan pantai, digambarkan sebagai objek yang dapat diidentifikasi. Beberapa karyanya dengan desain abstrak menyiratkan gambar alami, seperti karakter air dan tekstur serta warna bumi atau batu.
Edo Pop
Lahir di Palembang, Sumatra Selatan (1972).
Ia belajar di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR, Sekolah Tinggi Seni Rupa) di Palembang dari 1989 hingga 1993 dan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta (1995).
Ia telah terlibat dalam berbagai organisasi seniman di Palembang dan Yogyakarta sejak 1990, termasuk Sanggar Bidar Sriwijaya yang ia dirikan pada 1998, dan Rumah Seni Muara, Yogyakarta pada 2003. Eduard mengadakan pameran tunggal di Kopenhagen, Denmark, Surabaya, dan Yogyakarta. , Indonesia. Dia telah berpartisipasi dalam pameran kelompok di AS, Kanada, Singapura dan Indonesia sejak 1995.
Pada tahun 2002 ia menerima hadiah kedua di Indofood Art Awards.
Lukisan Eduard memiliki kualitas unik yang penuh dengan bentuk, warna, garis dan tekstur nyata yang terjerat. Seniman ini kuat dalam penjelajahannya terhadap tokoh-tokoh yang tampak aneh dan fantastis, gaya yang ia kembangkan sekitar tahun 2000.

 

 

Translated by: Google translate

 


 

Follow Us

Indonesian Fine Art - Facebook instagram gplus pint

Get The Updates From Us


 

 

©2016 Indonesian Fine Art - All rights reserved | Proudly Designed by digibali - Web Design Bali